| Tikus |
|
|
|
| Ditulis Oleh Widuri | ||||||
| Minggu, 04 April 2004 | ||||||
|
Suatu malam, ketika aku sedang menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari, aku mendengar meja belajarku berderit sendiri. Aneh sekali, aku pun segera melongokkan kepalaku ke meja belajar. Ah! Seekor tikus berlari-lari di antara tumpukan buku-buku pelajaranku. Secepat kilat, aku keluar dari kamar dan menjerit kepada ayahku yang sedang bermain komputer, "Tikuuus!" Ayahku segera masuk ke kamarku dan mendapati si tikus sedang terpojok di balik pintu. Kata ayahku, tikus itu besar dan berwarna coklat tua, moncongnya panjang, dan bulunya agak panjang. Ayahku meminta tolong padaku untuk mengambilkan Baygon. Kuambilkan Baygon yang ada di dapur. Ayah pun segera semprot sana semprot sini. Sementara itu, aku di luar menjerit-jerit menyemangati Ayah dan gemetar hebat. Aku kaget sekali karena kedatangan tikus itu amat tiba-tiba. Aku mendengar Ayah menyemprot Baygon ke sana sini. Mulai dari kasur, balik pintu, bahkan sampai ke lemari. Ah! Mengerikan sekali. Bagaimana wajah kamarku nanti, ya? Ayah meminta tolong padaku untuk mengambilkan sapu tangan yang digunakan untuk menutup hidung. Kuambilkan sapu tangan yang ada di lemari Ayah. Dan Ayah memintaku mengambilkan tongkat bambunya yang berat. Kuambilkan tongkat bambu itu dari balik pintu kamar beliau. Akhirnya, walaupun suaraku jadi serak, dan tubuhku terus bergetar, tikus itu mati. Tikus nakal itu dimasukkan ke dalam plastik hitam yang kemudian dibuang Ayah ke tong sampah. Tapi.... kamarku jadi seperti kapal pecah. Dua buah bantal terpental ke lantai. Sementara itu, gulingnya berada di atas meja, buku-buku pejalaranku yang sudah kusiapkan tampak terjatuh kesakitan di kolong kasur. Dan yang paling membuatku kaget, ada darah berceceran di balik pintu kamarku. Ugh, darahnya banyak sekali. Aku tidak heran, darah tikus itu bau sekali, namun, yang membuatku benar-benar heran adalah bau Baygon yang terus bersemayam di kamarku. Jendela kamar kubuka lebar-lebar, begitu juga dengan pintu. Hal itu bertujuan agar bau Baygon keluar. walau begitu, setelah dua jam, bau Baygon itu tidak keluar-keluar. Jengkelnya aku. Kemudian, aku pun tidur di kamar adikku sampai berhari-hari. Aku masih takut sekali jika masuk ke kamar, takut ada tikus. Ah, dasar tikus nakal! Jadikan sebagai favorit anda (39) | Cuplik artikel ini | Views: 502
1. 25-09-2008 18:49 Beri Komentar
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|






ni deh 