| Ringankan Bebannya |
|
|
|
| Ditulis Oleh Safira Islamidina | ||||||
| Minggu, 25 Agustus 2002 | ||||||
|
Waktu itu aku sedang jalan-jalan. Kebetulan saat itu lampu merah. Waktu mobil yang kami kendarai berhenti, anak-anak banyak yang menghampiri mobil kami. Salah satunya ada yang bernyanyi sambil bertepuk tangan. Mukanya pucat, tubuhnya juga sangat kurus. Lalu ia bernyanyi, hatiku yang gundah tak terobati...luka..dinyanyikan dengan nada dangdut.
Tapi tiba-tiba ia pingsan, padahal lampu sudah hijau. Jika ia tetap dibiarkan di jalanan, ia bisa terlindas mobil, pikirku. " Rani! bagaimana, harus kita apakan anak itu?" tanya Kakakku, Shandy. " Bawa saja ke Rumah Sakit! mau bagaimana lagi?" jawabku mulai panik, sementara mobil dibelangku memberi klakson. Ribut sekali, tapi akhirnya kakakku membuka pintu mobil dan menggendongnya ke mobil. Aku diam saja melihatnya. Setelah itu kakakku cepat tancap gas menuju Rumah Sakit terdekat. Anak itu kami bawa ke UGD ( Unit Gawat Darurat ). Para perawat disana segera memeriksanya. Salah satu perawat ada yang bertanya, " Siapa anak ini? kelihatannya ia tidak makan selama berhari-hari," katanya. " Kami tak tahu, ia pingsan di jalan ketika mengamen," jawab Kakakku singkat. " Ia harus diopname karena diketahui ia punya penyakit Leukimia ( kanker darah ). Apa anda bersedia mengurus biaya administrasinya?" tanya perawat itu. Kakak menoleh padaku, lalu kukatakan padanya bahwa lebih baik Ayah yang mengurusnya. Lalu Kakak menyetujuinya dan menelepon Ayah agar segera datang. Sudah satu minggu anak itu dirawat di Rumah Sakit. Aku, Ibuku dan seluruh keluarga bergantian menjaganya. Tiba-tiba anak itu siuman, setelah satu minggu koma. Ia lalu bingung melihat keadaannya. " Siapa kalian?!" tanyanya agak kasar. " Kami orang baik, kamu pingsan waktu mengamen, jadi kamu dibawa ke rumah sakit." jelas Ibuku lembut. Ia diam, lalu menangis tersedu. Kami semua heran, lalu bertanya, " Mengapa kau menangis?" tanya Ayahku. " Saya tidak perlu dirawat, saya juga nanti mati, untuk apa? Saya berpenyakit, orang tua saya bercerai dan entah kemana.." katanya sambil tersedu. " Siapa namamu?" tanyaku, " Namaku Lissa Amarinda," katanya. " Dari mana kau berasal? mengapa begini?" tanyaku lagi. " Aku berasal dari keluarga terpandang, tapi ayahku suka pulang sambil mabuk, hingga Ibuku tak tahan lalu menceraikannya. Ibu pergi entah kemana dan Papa menikah lagi dengan wanita muda yang kasar dan sombong, aku dititipkan di panti asuhan, dengan biaya yang dikirim papa...aku merana dan kabur..." ceritanya. Ibuku lalu menawarkan agar ia tinggal di rumah kami. Lissa dan aku sekarang sudah besar, Lissa sudah kuanggap sebagai saudaraku. Kami sudah kelas 6 sekarang, dan Lissa sudah melupakan masalahnya. Sekarang kami bahagia, dan tidak akan memgingat kejadian 3 tahun lalu. Dan aku punya pesan, jangan bersikap sombong terhadap siapa pun, jangan bedakan kaya atau miskin. Karena semua manusia adalah sama. KIRIMAN Safira Islamidina SD Lab School, kelas 6 Umur 11 tahun Jadikan sebagai favorit anda (33) | Cuplik artikel ini | Views: 362
Beri Komentar
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|





